Viral Video

Suami Korban Jembatan Kaca Banyumas Minta Pengelola Bertanggung Jawab atas Insiden

Suami korban jembatan kaca Banyumas meminta pengelola bertanggung jawab atas kejadian tragis ini.

Suami Korban Jembatan Kaca Banyumas Minta Pengelola Bertanggung Jawab atas Insiden Tragis

Arif Budi Santoso, suami dari korban insiden pecahnya jembatan kaca The Geong Hutan Pinus Limpakuwus, Banyumas, menuntut pihak pengelola wisata untuk bertanggung jawab atas kejadian tragis ini. Ia merasa sangat menyesal karena mengetahui bahwa jembatan tersebut belum siap namun sudah dibuka untuk wisatawan. Arif mengungkapkan bahwa keluarganya sangat terkejut ketika mengetahui bahwa istri mereka sedang berlibur tetapi malah mengalami musibah. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh kelalaian pihak pengelola wisata yang telah membuka jembatan tersebut sebelum siap digunakan.

Keluarga Kaget dengan Kelalaian Pengelola Wisata

Arif Budi Santoso menyampaikan kekecewaannya terhadap kelalaian pengelola wisata yang diakibatkan oleh pembukaan jembatan kaca yang belum sepenuhnya siap untuk digunakan. Ia berpendapat bahwa seharusnya ada uji coba kelayakan terlebih dahulu sebelum jembatan tersebut ditawarkan kepada pengunjung. Dengan demikian, dapat diketahui apakah jembatan kaca tersebut sudah memenuhi ketentuan yang ada atau tidak.

Arif Budi Santoso juga menyampaikan harapannya agar ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. Ia tidak ingin kejadian ini hanya berlalu begitu saja tanpa ada tindakan yang diambil. Arif menginginkan agar istri mereka menjadi korban terakhir dari kejadian serupa ini dan berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan.

Keluarga Korban Jembatan Kaca Banyumas Desak Pengelola Wisata Tanggung Jawab

Keluarga Korban Jembatan Kaca Banyumas Desak Pengelola Wisata Tanggung Jawab

Keluarga korban insiden pecahnya jembatan kaca The Geong Hutan Pinus Limpakuwus, Banyumas, mendorong agar pihak pengelola wisata bertanggung jawab atas kejadian tragis ini. Suami dari korban, Arif Budi Santoso, menyesalkan kelalaian yang dilakukan oleh pengelola wisata. Menurut informasi yang diterimanya, jembatan tersebut belum siap namun sudah dibuka untuk wisatawan.

Arif mengungkapkan bahwa keluarganya sangat terkejut dengan kejadian ini. Mereka hanya mengetahui bahwa istri mereka sedang berlibur, namun malah mendapat musibah. Ia menyalahkan kelalaian pihak pengelola wisata karena jembatan tersebut belum siap namun sudah ditawarkan kepada pengunjung.

Perlunya Uji Coba Kelayakan

Menurut Arif, seharusnya ada uji coba kelayakan sebelum jembatan tersebut ditawarkan kepada pengunjung. Hal ini penting untuk memastikan apakah jembatan kaca tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang ada. Namun sayangnya hal ini tidak dilakukan oleh pihak pengelola wisata.

Meskipun masih dalam proses berduka, Arif tetap meminta agar ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. Ia berharap agar kasus ini tidak hanya berlalu begitu saja. Ia mengingatkan bahwa seringkali masalah seperti ini hanya dibahas setelah terjadi kejadian serupa di masa yang akan datang. Arif berharap agar istri mereka menjadi korban terakhir dan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa depan.

Suami Korban Insiden Pecahnya Jembatan Kaca Banyumas Menuntut Pertanggungjawaban dari Pengelola

Suami dari korban insiden pecahnya jembatan kaca The Geong Hutan Pinus Limpakuwus, Banyumas, Arif Budi Santoso, menuntut pertanggungjawaban dari pihak pengelola wisata. Ia menyesalkan kelalaian yang dilakukan oleh pengelola wisata karena jembatan tersebut belum siap namun sudah dibuka untuk wisatawan. Menurut informasi yang ia terima, seharusnya ada uji coba kelayakan sebelum jembatan tersebut ditawarkan kepada pengunjung. Budi mengharapkan agar ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini dan tidak membiarkannya begitu saja.

Budi juga menyampaikan kekagetannya ketika mengetahui bahwa istrinya sedang berlibur namun malah mengalami musibah. Ia berharap agar insiden ini menjadi yang terakhir dan tidak ada lagi kejadian serupa di masa depan. Meskipun belum sampai pada tahap menempuh jalur hukum karena masih dalam proses berduka, Budi tetap meminta agar ada tanggung jawab atas kejadian ini.

Dalam hal ini, penting bagi pihak pengelola wisata untuk bertanggung jawab atas keselamatan pengunjung dengan memastikan bahwa semua fasilitas telah memenuhi standar keamanan dan kelayakan sebelum dibuka untuk umum. Dengan melakukan langkah-langkah pencegahan seperti uji coba kelayakan, pengelola wisata dapat menghindari terjadinya insiden yang berpotensi membahayakan nyawa pengunjung.

Budi berharap agar pihak pengelola wisata tidak mengabaikan tanggung jawab mereka dan membiarkan kejadian ini terlupakan begitu saja. Ia ingin agar istri yang menjadi korban insiden ini menjadi yang terakhir, dan ke depannya tidak ada lagi kejadian serupa yang merenggut nyawa orang-orang yang sedang berlibur.

Pengelola Wisata Didesak Bertanggung Jawab atas Insiden Pecahnya Jembatan Kaca di Banyumas

Pengelola Wisata Didesak Bertanggung Jawab atas Insiden Pecahnya Jembatan Kaca di Banyumas

Keluarga korban insiden pecahnya jembatan kaca The Geong Hutan Pinus Limpakuwus, Banyumas, menuntut agar pihak pengelola wisata bertanggung jawab atas kejadian tragis ini. Suami dari korban, Arif Budi Santoso, merasa kecewa dengan kelalaian yang dilakukan oleh pengelola wisata. Ia mendapatkan informasi bahwa jembatan tersebut belum siap namun sudah dibuka untuk pengunjung. “Keluarga kami sangat terkejut. Kami mengira istri saya sedang berlibur, tetapi malah terjadi musibah. Dan musibah ini disebabkan oleh kelalaian pihak pengelola wisata. Berdasarkan informasi yang ada, jembatan itu belum siap tapi sudah ditawarkan kepada pengunjung,” ujarnya.

Menurut Arif Budi Santoso, seharusnya ada uji coba kelayakan sebelum jembatan tersebut ditawarkan kepada pengunjung. Hal ini penting agar dapat memastikan apakah jembatan kaca tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Meskipun belum sampai pada tahap hukum karena masih dalam proses berduka, ia tetap meminta agar ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. “Harus ada yang bertanggung jawab. Jangan biarkan hal ini terlewat begitu saja. Biasanya jika sudah lama berlalu, orang akan melupakan dan baru dibahas kembali setelah terjadi kejadian serupa. Biarkan istri saya menjadi korban yang terakhir. Saya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa depan,” harapnya.

Suami Korban Jembatan Kaca The Geong Limpakuwus Minta Ganti Rugi dari Pengelola Wisata

Arif Budi Santoso, suami korban insiden pecahnya jembatan kaca The Geong Hutan Pinus Limpakuwus, Banyumas, menuntut ganti rugi dari pihak pengelola wisata. Ia menyesalkan kelalaian yang dilakukan oleh pengelola wisata tersebut. Menurut informasi yang diterima oleh Arif, jembatan tersebut belum siap namun sudah dibuka untuk wisatawan.

Kelalaian Pengelola Wisata

Arif mengungkapkan bahwa keluarganya sangat terkejut ketika mengetahui bahwa istri mereka sedang berlibur namun malah mengalami musibah. Ia menyalahkan kelalaian pihak pengelola wisata karena jembatan tersebut seharusnya tidak dibuka untuk pengunjung sebelum melalui uji coba kelayakan. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah jembatan kaca tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.

Arif menyampaikan kekecewaannya dan meminta agar ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. Meskipun saat ini masih dalam masa berduka, ia tetap ingin memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi di masa depan.

Keluarga Mendorong Pihak Pengelola untuk Menanggung Tanggung Jawab atas Insiden Jembatan Kaca Banyumas

Keluarga Mendorong Pihak Pengelola untuk Menanggung Tanggung Jawab atas Insiden Jembatan Kaca Banyumas

Keluarga dari korban insiden pecahnya jembatan kaca The Geong Hutan Pinus Limpakuwus, Banyumas, mendorong agar pihak pengelola wisata bertanggung jawab atas kejadian tragis ini. Suami dari korban, Arif Budi Santoso, menyesalkan kelalaian yang dilakukan oleh pengelola wisata. Menurutnya, jembatan tersebut belum siap namun sudah dibuka untuk wisatawan.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, keluarga merasa terkejut karena istri mereka sedang berlibur namun malah mengalami musibah. Arif Budi Santoso menyebut bahwa musibah ini disebabkan oleh kelalaian pihak pengelola wisata. Ia mengetahui bahwa jembatan tersebut belum siap namun sudah ditawarkan dan dipersilakan kepada pengunjung.

Menurut Arif Budi Santoso, seharusnya ada uji coba kelayakan sebelum jembatan tersebut ditawarkan kepada pengunjung. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah jembatan kaca tersebut sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.

Meskipun belum sampai pada tahap hukum karena masih dalam proses berduka, Arif Budi Santoso tetap meminta agar ada yang bertanggung jawab atas insiden ini. Ia berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa depan dan meminta agar kasus ini tidak hanya dilupakan begitu saja.

Baca berita selengkapnya di sini.

Suami Korban Jembatan Kaca Banyumas Menyesalkan Kelalaian Pengelola, Minta Pertanggungjawaban

Arif Budi Santoso, suami dari FA yang menjadi korban insiden pecahnya jembatan kaca The Geong Hutan Pinus Limpakuwus di Banyumas, mengecam kelalaian pengelola wisata dan meminta pertanggungjawaban atas kejadian tragis ini. Arif menyayangkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, jembatan tersebut belum siap namun sudah dibuka untuk wisatawan. Ia merasa terkejut karena mengetahui istriya sedang berlibur tetapi malah mengalami musibah. Arif yakin bahwa insiden ini disebabkan oleh kelalaian pihak pengelola wisata yang telah membuka jembatan tersebut sebelum memastikan kelayakan konstruksinya.

Menurut Arif, seharusnya ada uji coba kelayakan terlebih dahulu sebelum jembatan ditawarkan kepada pengunjung. Hal ini bertujuan untuk memastikan apakah jembatan kaca tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Meskipun belum sampai pada tahap hukum karena masih dalam proses berduka, Arif tetap menekankan pentingnya adanya pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. Ia tidak ingin kejadian serupa terulang lagi di masa depan dan berharap agar istriya menjadi korban terakhir dari kejadian seperti ini.

Suami korban jembatan kaca Banyumas menuntut tanggung jawab pengelola atas kejadian tersebut. Permintaan ini dilakukan agar pengelola bertanggung jawab penuh dan memberikan ganti rugi kepada korban. Diharapkan ke depannya, pengelola dapat lebih memperhatikan keamanan dan kualitas struktur jembatan demi mencegah terjadinya insiden serupa.

Related Articles

Back to top button